Selamat Datang Di Siloam Heart Institute

Apa Itu Kelainan Irama Jantung?

Selasa, 17 Januari 2017 | 17:32

Tim dokter di Siloam Heart Institute. (Investor Daily/Indah Handayani)

Jakarta – Atrial Fibrilasi (AF) atau penyakit kelainan irama jantung kerap tidak disadari oleh para penderitanya. Hal itu karena penyakit ini kerap menyebabkan stroke bahkan berujung pada kematian. Lalu apakah AF itu?

Vice Chairman Siloam Heart Institute (SHI) dr Antono Sutandar SpJP (K) mengatakan AF merupakan kelainan irama jantung kamar atas (atrium). Salah satu gejala AF yang paling mudah dikenali adalah detak jantung yang tidak teratur. Detak jantung ini bisa cepat lambat, atau kombinasi cepat dan lambat.

Jika AF itu cepat dapat disertai dengan keluhan gagal jantung, seperti sesak napas dan cepat lelah. Jika lambat disertai dengan keluhan seperti mau pingsan dan kehilangan kesadaran sementara.

“Pencetus kelainan irama jantung dapat berupa kelainan tiroid, kelainan atrium yang membesar akibat hipertensi, kelainan katup jantung, atau yang dan sebagian kecil disebabkan oleh kelainan genetik,” ungkap dr Antono di sela media gathering Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ) di Jakarta, Selasa (17/1).

Antono menjelaskan prevalensi pasien AF semakin meningkat seiring bertambahnya usia. Usia di atas 75-80 tahun dengan prevalensi 10-15 persen. Baik FA yang terus-menerus (persistent AF) dan/ atau AF yang hilang timbul (paroxysmal AF) disertai dengan risiko stroke yang meningkat.

Risiko stroke akan meningkat jika penderita ada keluhan gagal jantung, hipertensi, diabetes, berusia lanjut di atas 75 tahun, memiliki sejarah stroke sebelumnya, dan ada penyempitan pembuluh darah otak, jantung, atau kaki.

Untuk penanaganan, lanjut dia, dapat dilakukan melalui 2 cara yaitu rate control (hidup berdampingan dengan AF untuk mencari keseimbangan irama supaya tidak terlalu cepat atau lambat) dan rhythm control (mengembalikan irama menjadi normal).

Hasil jangka panjang antara rate control dan rhythm control tidak berbeda jauh. Komponen lain yang penting adalah pencegahan stroke yang dilakukan dengan pemberian obat pengencer darah. Obat pengencer darah dibagi menjadi dua yaitu antiplatelet dan anticoagulant.

Bagi penderita AF, Antono menambahkan, diberi anticoagulant untuk mencegah stroke. Keputusan menggunakan anticoagulant berdasarkan pertimbangan antara dan keuntungannya adalah menurunkan stroke sebanyak 60-70 persen sedangkan risikonya adalah sebesar 3-5 persen per tahun. Bagi penderita yang mengalami kontraindikasi atau tidak tahan terhadap anticoagulant terdapat pilihan lain yaitu dengan menutup kuping kamar atas jantung.

“Serta, pemberian obat antiplatelet dengan risiko perdarahan yang lebih kecil,” tutupnya.

Indah Handayani/JAS