Selamat Datang Di Siloam Heart Institute

Atasi gangguan jantung dengan CABG

Atasi gangguan jantung dengan CABG

Jantung adalah salah satu organ manusia yang berperan sangat penting karena bekerja memompa darah ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah arteri. Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular Siloam Hospitals yang merupakan Pimpinan Siloam Heart Institute (SHI) dr. Maizul Anwar, Sp.BTKV menjelaskan “arteri koroner merupakan pembuluh darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke jantung.”

Penyakit jantung yang paling umum terjadi adalah penyakit jantung koroner. Biasanya kasus jantung koroner dialami pada usia produktif dari umur yang dioperasi antara 31 tahun termuda hingga 85 tahun. Untuk kasus di bawah usia 50 tahun, kejadian penyakit jantung koroner berhubungan erat dengan gaya hidup, seperti pola makan yang kurang baik, merokok, tidak berolahraga, hipertensi, serta stres yang tinggi. Selain itu hiperkolesterolemia, gula darah yang tinggi merupakan hasil metabolisme dari pola makan yang tidak sehat.

Menurut dr. Maizul, penyakit ini terjadi ketika pasokan darah yang kaya oksigen menuju otot jantung terhambat oleh plak pada arteri koroner. Makin besar plak, makin sempit arteri koroner sehingga suplai darah kaya oksigen ke jantung kian menipis dan bisa tersumbat. Apabila tidak segera ditangani bisa mengakibatkan kegawatan medis karena menyebabkan kerusakan jantung permanen atau bahkan kematian. “Pada kasus-kasus penyakit jantung koroner yang tidak bisa diatasi lagi dengan obat-obatan atau pasien yang sudah memasang stent yang tidak dapat diulang lagi, dalam dunia medis solusi untuk mengatasi kondisi tersebut adalah dengan melakukan prosedur Coronary Artery Bypass Graft (CABG),” jelas dr. Maizul.

CABG adalah sebuah prosedur tindakan bedah dengan membuat pembuluh darah baru atau biasa disebut bypass pada penyakit jantung koroner. Pembuluh darah baru tersebut nantinya akan melintasi pembuluh darah jantung yang menyempit dengan menggunakan pembuluh darah dari bagian tubuh lain, seperti arteri di dada, lengan, dan pembuluh vena dari kaki.

Tindakan CABG dapat dilakukan dengan menggunakan dua teknik, yaitu dengan menggunakan mesin jantung paru konvensional (on pump) atau tanpa menggunakan mesin jantung paru (off pump).

Teknik CABG off pump atautindakan tanpa memakai mesin jantung paru memiliki beberapa kelebihan dibanding metode konvensional. “Selain sayatan yang dihasilkan lebih kecil dan pemulihan pasien lebih cepat, jantung pasien akan tetap berdenyut saat penyambungan pembuluh darah, prosedurnya pasien harus memiliki pembuluh darah yang besar, dan jumlah bypass tidak lebih dari tiga pembuluh darah. Teknik ini memerlukan denyut jantung yang dibuat pelan, lalu pembuluh darah yang baru akan disambung dengan pembuluh koroner dibantu alat stabilizer,” terang dr. Maizul. Proses operasi CABG dapat berlangsung antara 4-5 jam.

Operasi jantung selain diperlukan untuk mengatasi penyakit jantung koroner, juga bisa dilakukan untuk penyakit-penyakit, seperti kelainan bocor katup jantung atau penggantian katup jantung. dr. Maizul mengingatkan, segala tindakan kedokteran pasti ada risiko, terutama untuk pasien-pasien tertentu, seperti yang pernah memiliki riwayat stroke atau gangguan ginjal. Namun dengan persiapan yang matang oleh tim dokter sebelum tindakan tentunya risiko yang dihadapi dapat dikurangi,” jelasnya.

Dalam memprediksi besarnya risiko SHI juga mengunggulkan Euro score, di mana score tersebut dihitung dari faktor umur, jenis kelamin, penyakit pernapasan, penyakit pembuluh darah perifer, stroke, operasi jantung sebelumnya, fungsi ginjal, kondisi jantung sebelum operasi, gangguan pompa jantung, infark jantung sebelumnya, dan operasi emergency. Bila score 0-2 disebut risiko ringan, score 3-5 risiko sedang, dan score 6 atau lebih adalah risiko berat untuk operasi jantung.

Untuk prosedur CABG, pasien harus melakukan persiapan melalui diagnosis khusus kateterisasi jantung. Tim dokter spesialis dari berbagai disiplin ilmu akan dilibatkan untuk memantau keadaan pasien sebelum dan pasca operasi. “Ini operasi besar, jadi harus melakukan eliminasi dari fokal-fokal infeksi sehingga ketika dilakukan operasi tidak akan terjadi infeksi yang memberatkan operasi,” papar dr. Maizul.

Atasi Gangguan Jantung dengan CABG

Tingkat keberhasilan tinggi

Dalam hal menangani pasien jantung koroner dan sejenisnya, diperlukan peralatan dan tenaga medis yang berpengalaman. Dalam hal ini terdapat tiga rumah sakit rujukan dari Siloam Hospitals Group, yakni Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Siloam Hospitals Lippo Village, dan RS Jantung Diagram Cinere.

Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular dr. Maizul Anwar, Sp.BTKV mengatakan Siloam Hospitals Group telah memiliki banyak pengalaman dalam operasi bypass jantung. Didukung fasilitas lengkap, peralatan yang canggih, dan tim dokter yang berpengalaman dalam menangani berbagai kasus bedah toraks kardiovaskular, SHI memastikan pasien bisa mendapatkan penanganan jantung secara maksimal. Masing-masing dokter pun rutin menjalani berbagai pelatihan, baik di dalam maupun luar negeri.

Sampai dengan 2016, pihaknya telah melakukan tindakan Coronary Artery Bypass Graft (CABG) sebanyak 447 orang,” ujarnya. Keberhasilan operasi bypass jantung di Siloam Hospitals sangat tinggi, namun dr. Maizul menegaskan bahwa hal tersebut sangat tergantung dari penyakit jantung yang diderita seseorang. “Pada pasien usia lanjut dan memiliki penyakit kompleks, angka mortalitas bisa lebih tinggi”, tukasnya.

“Pasca operasi dan setelah pemulihan nantinya pasien akan bisa kembali beraktivitas seperti biasa, namun harus benar-benar tertib menjalankan gaya hidup sehat sehingga hasil dari CABG bisa bertahan jangka panjang dan tentunya kualitas hidup pasien akan lebih baik,” tutupnya.