Selamat Datang Di Siloam Heart Institute

Di Atas 31 Tahun Mulai Rentan

Di Atas 31 Tahun Mulai Rentan

Jantung menjadi salah satu komponen terpenting karena bekerja untuk memompa darah ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah arteri. Namun, seiring dengan bertambahnya usia, performa pembuluh darah arteri jantung akan menurun.

KETIKA fungsi pembuluh darah arteri koroner menurun, seseorang mengalami kekurangan pasokan darah yang kaya oksigen bagi otot jantung. Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular Siloam Hospitals Kebon Jeruk dr Maizul Anwar SpBTKV menjelaskan bahwa solusi untuk mengatasi kondisi tersebut adalah melakukan prosedur coronary artery bypass graft (CABG). Menurut dia, CABG adalah sebuah prosedur tindakan dengan membuat pembuluh darah baru atau biasa disebut bypass pada jantung koroner.

Pembuluh darah baru itu nanti melintasi pembuluh darah jantung yang menyempit. ’’CABG diperlukan pada kasus-kasus jantung koroner yang tidak bisa diatasi lagi dengan obat-obatan atau pasien yang sudah memasang stent yang tidak dapat diulang lagi sehingga dibutuhkan tindakan bypass,’’ jelas Maizul yang juga ketua Siloam Heart Institute (SHI). Umumnya, kasus-kasus jantung koroner dialami pada usia rentan antara 31 tahun hingga 85 tahun. Kasus di bawah usia 50 tahun biasanya berhubungan dengan gaya hidup seperti pola makan yang kurang baik, merokok, dan stres yang tinggi.

Jika hal itu terjadi, tindakan CABG dinilai aman karena menggunakan pembuluh darah dari bagian tubuh lain seperti arteri di dada dan lengan serta pembuluh vena dari kaki. Tindakan CABG dapat dilakukan dengan menerapkan dua teknik, yaitu menggunakan mesin jantung paru konvensional (on pump) atau tanpa menggunakan mesin jantung paru (off pump). ’’Dengan mesin, saat melakukan bypass, fungsi jantung diambil alih oleh mesin sehingga diberhentikan sementara. Lalu, dilakukan prosedur penyambungan graft sampai selesai dan akhirnya jantung berdenyut kembali,’’ terangnya. Untuk tindakan tanpa memakai mesin jantung paru, jantung pasien akan tetap berdenyut saat penyambungan pembuluh darah.

Khusus untuk teknik kedua itu, prosedurnya pasien harus memiliki pembuluh darah yang besar dan jumlah bypass tidak lebih dari tiga. ’’Biasanya, denyut jantung dibuat pelan, lalu pembuluh darah yang baru akan disambung dengan alat stabilizer,’’ ujarnya. Untuk prosedur CABG, seorang pasien harus memenuhi beberapa syarat dan persiapan lebih dulu melalui diagnosis khusus kateterisasi jantung. Tim khusus dari berbagai disiplin ilmu akan dilibatkan untuk meminimalkan ketidaknyamanan pasien.

Berbagai pemeriksaan harus dilakukan seperti pemeriksaan gigi, gangguan kulit, faktor-faktor pembekuan darah, termasuk obat pengencer darah harus dihentikan. ’’Ini operasi besar, jadi harus melakukan eliminasi dari fokal-fokal infeksi. Jadi, ketika dilakukan operasi, tidak akan terjadi infeksi yang memberatkan operasi,’’ tutur Maizul. Proses operasi CABG berlangsung 4–5 jam. Namun, waktunya bisa bertambah jika perlu dilakukan operasi tambahan secara bersamaan. Misalnya, bedah katup jantung atau lainnya. Selain diperlukan untuk mengatasi penyakit jantung koroner, operasi jantung (open heart) bisa dilakukan untuk penyakit-penyakit seperti kelainan bocor katup jantung atau penggantian katup jantung.

Dokter Maizul mengingatkan, segala tindakan kedokteran pasti berisiko, terutama bagi pasien-pasien tertentu seperti yang pernah memiliki riwayat stroke atau gangguan ginjal. Namun, umumnya risiko yang dihadapi tersebut sangat minim dan terukur. ’’Dokter biasanya melakukan antisipasi sebelum operasi dilaksanakan sehingga faktor risiko itu bisa diatasi,’’ ungkapnya.

Tingkat Keberhasilan Tinggi

DALAM penanganan pasien jantung koroner dan sejenisnya, diperlukan peralatan dan tenaga medis yang berpengalaman. Terdapat tiga rumah sakit rujukan dari Siloam Hospitals Group, yakni Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Siloam Hospitals Lippo Village, serta RS Jantung Diagram Cinere. Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular Siloam Hospitals Kebon Jeruk dr Maizul Anwar SpBTKV menjelaskan, Siloam Hospitals Group telah memiliki banyak pengalaman dalam operasi bypass jantung.

Selama 2016, pihaknya telah melakukan tindakan coronary artery bypass graft (CABG) terhadap 202 orang. ’’Di antara jumlah itu, yang melakukan operasi on pump bypass sekitar 180 orang,’’ ujarnya. Keberhasilan operasi bypass jantung di Siloam Hospitals sangat tinggi. Secara nasional, angka kematian (mortalitas) dari tindakan CABG kurang dari 2 persen. Maizul menegaskan, hal tersebut sangat bergantung dari penyakit jantung yang diderita seseorang sudah kompleks atau belum. ’’Jika sudah kompleks, apalagi usia lanjut, pasti angka mortalitas akan naik,’’ ungkapnya.

Untuk menekan berbagai risiko yang ada, pasien yang akan ditindak melalui prosedur CABG lebih dulu harus bertemu dan berkonsultasi dengan ahli bedah untuk dijelaskan tentang prosedur operasinya. ’’Segala saran dan informasi yang diterima dari dokter ahli bedah harus dijalani sehingga pasien mengerti tujuan yang akan dicapai. Obat-obatan yang diperlukan juga harus tersedia,’’ tegasnya.

Sebagai contoh, di SHI untuk memprediksi besarnya risiko, digunakan EuroSCORE. Score tersebut dihitung dari faktor umur, seks, penyakit pernapasan, penyakit pembuluh darah perifer, stroke, operasi jantung sebelumnya, fungsi ginjal, kondisi jantung sebelum operasi, gangguan pompa jantung, infark jantung sebelumnya, dan operasi darurat. Score 0–2 disebut risiko ringan, score 3–5 risiko sedang, dan score 6 atau lebih adalah risiko berat untuk operasi jantung.

Yang tidak kalah penting, lanjut Maizul, setelah operasi CABG selesai dijalankan, pasien harus mengubah gaya hidup. Pasien harus benar-benar tertib untuk menjalankan gaya hidup sehat. ’’Pasien tidak boleh merokok dan makanan diatur sehingga kolesterol tidak naik. Gula darah dan hipertensi harus dikontrol sehingga hasil dari CABG bisa jangka panjang,’’ tandasnya. (tih/c14/wir)