Selamat Datang Di Siloam Heart Institute

Hipertensi dan Penyakit Jantung

Hipertensi dan Penyakit Jantung

dr.-Elisa-Pakpahan,-SpJP---Hipertensi-dan-Penyakit-Jantung

Oleh: Dr. Elisa Feriyanti Pakpahan, SpJP

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu penyakit kronis dimana terdapat peningkatan tekanan darah sistolik (tekanan darah saat jantung berkontraksi) yang lebih dari 140 mmHg dan/ atau tekanan darah diastolik (tekanan darah saat jantung tidak berkontraksi) lebih dari 90 mmHg. Hipertensi merupakan penyebab utama kematian prematur di dunia. Menurut data World Health Organization (WHO), terdapat sekurang-kurangnya 970 juta orang di seluruh dunia yang mengidap tekanan darah tinggi (hipertensi) yaitu 330 juta jiwa di negara berkembang dan 640 juta jiwa di negara maju. Angka ini akan terus meningkat dan diprediksi akan terdapat 1,56 milyar jiwa mengidap hipertensi pada tahun 2025. Sedangkan di Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2007, sebanyak 31,7% penduduk di atas 18 tahun mengidap hipertensi dan hanya 0,4% yang terkontrol.

Hipertensi terkenal sebagai ‘silent killer’ atau pembunuh diam-diam, karena kerap kali tidak menimbulkan gejala, tetapi tanpa disadari penyakit ini akan merusak jantung, pembuluh darah, ginjal, mata, dan otak secara perlahan dan terus menerus. Hipertensi adalah penyakit kronik dan 99% penyakit hipertensi tidak diketahui penyebabnya. Pengidap hipertensi tidak pernah sembuh walaupun telah dilakukan pengobatan. Tujuan dari pengobatan hipertensi adalah mengontrol tekanan darah sesuai target. Dengan tekanan darah yang terkontrol melalui pengobatan dan perubahan gaya hidup, komplikasi hipertensi akan berkurang secara bermakna.

Hubungan Hipertensi dan Penyakit Jantung

Hipertensi yang tidak terkontrol akan menyebabkan penyakit jantung berupa penyakit jantung koroner, pembesaran jantung, dan gagal jantung.

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner yang penting. Tekanan darah tinggi akan menyebabkan pembuluh darah koroner (pembuluh darah yang memberi suplai darah ke jantung) mengalami aterosklerosis (penyakit penumpukan lemak di dinding pembuluh darah) dan terjadilah pembentukan plak. Plak akan menyebabkan penyempitan pembuluh koroner dan bahkan dapat terjadi penyumbatan secara tiba-tiba. Pembuluh koroner yang menyempit akan menghambat aliran darah sehingga asupan oksigen ke jantung untuk memenuhi kebutuhan jantung akan menurun. Plak juga dapat memulai pembentukan sumbatan pembuluh darah koroner secara tiba-tiba. Kurangnya suplai darah ke jantung akan menyebabkan nyeri dada, sesak napas, pingsan, ketidakteraturan irama jantung, dan bahkan sering menyebabkan meninggal mendadak.

Selain merusak koroner, tekanan yang tinggi pada pembuluh darah akan memaksa jantung untuk bekerja lebih keras dalam memompa darah ke seluruh tubuh. Hal ini akan menyebabkan penebalan otot jantung dan hilangnya elastisitas dari otot itu. Berbeda dengan otot lengan atau otot perut yang terlatih akan menjadi lebih kuat, otot jantung yang menebal pada akhirnya akan mengalami penurunan fungsi, baik fungsi relaksasi untuk menampung darah dan terutama fungsi pompa jantung akan menurun. Penurunan fungsi ini akan menyebabkan sesak nafas, pembengkakan hati dan tungkai, cepat lelah, gangguan irama jantung, dan bahkan kematian mendadak.

Pengobatan Hipertensi

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Seperti telah disebutkan di atas, semua komplikasi hipertensi ini akan berkurang secara bermakna apabila tekanan darah terkontrol.  Perubahan gaya hidup sehat sangat penting dalam pengobatan hipertensi. Berhenti merokok, memiliki berat badan ideal, olahraga teratur, makan makanan seimbang, dan kurangi konsumsi alkohol adalah hal-hal yang harus dilakukan apabila tekanan darah di atas normal. Olahraga yang dianjurkan adalah aerobik, seperti jogging, bersepeda, senam, berenang, dengan frekuensi 5-7 kali per minggu minimal 30 menit. Diet yang dianjurkan adalah kurangi lemak, jeroan, kulit ayam, santan, kuning telur, dan otak sapi. Hindari makanan olahan atau kalengan dan siap saji, kurangi konsumsi garam, dan perbanyak buah dan sayuran.

Target tekanan darah adalah tekanan sistolik ≤ 130 mmHg. Apabila dengan modifikasi gaya hidup tekanan darah tetap lebih dari 130 mmHg, pengobatan anti hipertensi diperlukan. Obat-obatan tidak akan dapat menyembuhkan hipertensi, karena penyakit ini memang tidak dapat disembuhkan.  Obat ini sangat diperlukan untuk mengontrol tekanan darah sesuai target yang kita inginkan. Terkadang kombinasi lebih dari 1 obat anti hipertensi diperlukan. Jangan menghentikan obat tanpa saran dari dokter, karena obat anti hipertensi hanya bekerja dengan baik apabila dikonsumsi secara teratur sesuai aturan penggunaannya. Apabila obat hipertensi dihentikan, maka tekanan darah akan kembali naik dan komplikasi akan terjadi. Kontrol teratur sangat diperlukan dalam terapi hipertensi.

Kontrol tekanan darah sejak dini dengan gaya hidup sehat dan terapi anti hipertensi dalam pengawasan medis niscaya komplikasi hipertensi terhadap jantung akan dapat terhindari.