Selamat Datang Di Siloam Heart Institute

Ketika Bedah Jantung Satu-Satunya Pilihan

Ketika Bedah Jantung Satu-Satunya Pilihan

dr.-Maizul-Anwar-SpBTKVDalam beberapa dekade terakhir, kematian akibat penyakit jantung kian meningkat khususnya pada negara berkembang dan negara maju. Kini, jumlah operasi jantung di Indonesia berkisar antara 5000 kasus per tahun, masih tergolong sangat sedikit dibandingkan dengan potensi kasus bedah jantung yang berjumlah sekitar 20.000 kasus per tahun. Selain faktor ketidakmampuan finansial dan ketidakpercayaan terhadap kualitas pelayanan jantung di Indonesia, masyarakat Indonesia juga kurang teredukasi mengenai bedah jantung.

CABG adalah Coronary Artery Bypass Graft atau secara umum disebut dengan Bypass Koroner. Dalam hal ini, bypass ialah membuat pembuluh darah baru dari aorta (pembuluh nadi besar) melewati pembuluh darah koroner yang menyempit sehingga otot-otot jantung mendapat pasokan darah yang cukup untuk kebutuhan kerja jantung.

Penyempitan atau penyumbatan ini terjadi karena adanya proses atherosclerosis (proses penumpukan lemak di dinding pembuluh darah) yang dimulai sejak beberapa tahun sebelumnya. Proses endapan atheroma (lemak) tersebut semakin tebal dan menonjol ke dinding bagian dalam. Ada kalanya lapisan endothel (lapisan sel yang melapisi dinding bagian dalam pembuluh darah koroner tersebut) di atasnya pecah dan diendapi trombosit (keping sel pembekuan darah) yang membentuk bekuan darah yang makin lama makin banyak sehingga akan tertutup total dan terjadilah apa yang disebut serangan jantung akut.

Serangan jantung memiliki beberapa tanda, namun tanda yang paling khas adalah nyeri dada atau angina pectoris. Nyeri dirasakan di daerah bawah tulang dada agak ke sebelah kiri dengan rasa seperti beban berat, ditusuk-tusuk, terbakar yang kadang menjalar ke rahang, lengan kiri, dan ke belakang punggung, serta disertai keringat yang banyak. Pada tahap awal, keluhan tersebut akan berkurang dalam beberapa menit bila pasien istirahat dan akan terjadi lagi bila aktivitas meningkat. Hal ini disebut angina pectoris stabil. Kalau nyeri dada menetap lebih dari 30 menit, maka kemungkinan besar hal itu adalah suatu serangan jantung akut, maka harus ke rumah sakit dengan segera untuk mendapatkan pertolongan segera.

CABG dapat menghilangkan 85% dari keluhan angina pectoris tersebut. Penyakit jantung koroner yang harus dilakukan CABG adalah:

  1. Penyempitan pembuluh utama kiri lebih dari 50%.
  2. Ketiga cabang utama menyempit dengan gangguan fungsi pompa jantung kurang dari 50%.
  3. 2 cabang utama (Vessel Disease atau VD) atau 1 VD dengan gangguan penyempitan pangkal pembuluh koroner kiri depan (Left Anterior Descending Artery atau LAD).
  4. Penyakit jantung koroner yang akan menjalani operasi katup sekaligus atau operasi besar lainnya.

Persiapan sebelum CABG sangat penting karena merupakan operasi besar, maka semua fokal infeksi seperti gigi yang berlubang atau kelainan kulit daerah operasi harus dihilangkan. Tentu persediaan darah yang cukup juga esensial jika menghadapi terjadinya situasi perdarahan akut serta pemeriksaan laboratorium untuk fungsi organ yang lain.

Risiko kematian akibat CABG secara umum kurang dari 2% untuk fungsi jantung yang normal. Seiring bertambahnya usia, maka risiko kematian semakin bertambah karena organ-organ lainnya juga mengalami penurunan fungsi. Jika terjadi komplikasi, maka diperlukan tindakan tambahan atau perawatan yang lebih lama. Fakta juga menunjukkan bahwa pasca tindakan CABG, persentase gangguan stroke kurang dari 3%, gangguan fungsi ginjal yang memerlukan cuci darah kurang dari 2%,  dan gangguan irama jantung yang memerlukan alat pacu jantung permanen  kurang dari 1%.

Ada 2 macam teknik CABG yang lazim dilakukan yaitu menggunakan mesin jantung-paru (Cardio Pulmonary Bypass atau CPB) dan tanpa menggunakan mesin jantung-paru. Jika menggunakan CPB, maka jantung akan dihentikan memakai obat kardioplegia sewaktu menyambungkan pembuluh baru (graft). Sedangkan, jika tidak menggunakan mesin CPB harus memakai alat stabilizator sehingga spesialis bedah dapat menjahitkan graft ke pembuluh darah koroner. Syarat untuk bypass tanpa CPB haruslah pembuluh darah cukup besar dan jumlah graft tidak lebih dari 3. Lama operasi bypass rata-rata 4 jam di luar proses anestesi.

Pasca operasi pasien akan dirawat di ICU/ ICCU yang diawasi seorang dokter intensif selama 1-2 hari. Kemudian pasien dipindah ke ruangan rawat inap selama 5-7 hari dan menjalani fisioterapi. Setelah itu, pasien siap untuk pulang ke rumah.

Pasca operasi, pasien akan diminta kontrol ke poliklinik agar dokter dapat memantau proses penyembuhan luka dan proses pemulihan fungsi jantung dan kembali ke kondisi sebelum operasi atau siap bekerja kembali.

Selain itu pasien juga dianjurkan untuk mengubah gaya hidup, seperti membiasakan diri untuk olahraga 3 kali seminggu (minimal jalan kaki selama 30 menit), menjaga stres tidak berkepanjangan, dan berhenti merokok. Diet khusus yang dianjurkan adalah memperbanyak konsumsi sayuran dan buah-buahan, mengkonsumsi makanan rendah kolesterol (jeroan tidak diperbolehkan), kurangi garam, menggunakan minyak goreng lemak tak jenuh (nabati), dan diet sesuai diabetes bila ada. Obat-obatan yang dianjurkan adalah obat pengencer darah atau anti platelet agregasi, obat anti hipertensi, dan obat anti diabetes untuk orang yang menderitanya.