Selamat Datang Di Siloam Heart Institute

Mengapa Perlu Check-UP?

Seorang pria berusia 32 tahun mengeluh nyeri dada dan harus dirawat karena serangan jantung. Pasien dan keluarga terheran heran, orang berusia muda bisa terkena serangan jantung. Akhirnya pasien harus menjalani kateterisasi dan pemasangan stent yang membutuhkan biaya cukup besar.

Seorang remaja berusia I 8 tahun harus diobati karena tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol yang tinggi. Seorang wanita berusia 43 tahun harus diamputasi jari kakinya karena luka yang membusuk akibat kadar gula darah dan hipertensi yang tidak terkontrol. Seorang pria juara dunia bulu tangkis yang amat terkenal dan menjadi legenda, harus menjalani operasi jantung by-pass pada usia 40 tahun. Seorang wanita usia 45 tahun menjalani perawatan akibat slroke karena hipertensi dan irama jantung yang tidak teratur, dengan masa pemulihan yang lama dan akhirnya harus menjadi beban bagi keluarga.

Seorang mantan pengusaha terkenal, yang badannya kecil dan tidak pernah gemuk, ternyata sudah menjalani operasi jantung by-pass pada saat usianya masih muda. Usia termuda yang menjalani operasi jantung by-pass di Indonesia adalah 28 tahun, dan yang menjalani kateterisas/pemasangan balon dan stent makin bertambah muda pula.

Semua orang memiliki risiko

llustrasi di atas adalah gambaran bahwa siapa saja bisa terkena penyakit jantung dan pembuluh darah, tanpa memandang usia, janis kelamin, apakah sering berolah raga, yang tampaknya disiplin dengan pola hidupnya, yang belia, yang tidak gemuk, yang tidak pernah merasa ada gangguan apapun dalam hidupnya, bahkan lerheran-heran rasanya, tidak mungkin, dan sebagainya. Banyak yang harus menerima kenyataan tersebut pada usia yang muda, saat kariemya ceme~ang, saat menjadi tulang punggung keluarga, tulang punggung roda usahanya, alkhirnya malah harus istirahat panjang di rumah saki!, hilang kesempatan berkarier, harus minum obat banyak tenus menerus padahal dia sangat sibuk. Dan bahkan ada yang terbalik dari tulang punggung sekarang malah menjadi beban bagi keluarganya.

Faktor risiko

Hal di alas dapat terjadi karena kita tidak menyadari faklor-faklor risiko yang ada pada diri kita, dan alkhirnya faklor risiko tersebut berkembang menjadi penyakit. Apa saja faktor risiko yang dikenal? Di antaranya adalah usia di atas 40 tahun (bahkan di luar negeri sudah mernakai batasan 35 tahun), jenis kelamin, hipertensi, diabetes, merokok, kolesterol, trigliserida, asarn ural, pola hidup yang kurang baik, kurang olah raga, obesitas, riwayat keluargalgenetik, sering tidur larut malam, kurang istirahat, infeksi kmnis, kelainan darah/pembuluh darah, dan lain-lain. Faktor risiko tersebut ada yang bisa dimodifikasVdiperbaiki dan ada yang tidak bisa dimodifikas/diperbaiki.

Mengendalikan faktor risiko

Hal-hal seperti usia, janis kelamin, riwayat keluarga, genetik, tentu saja tidak dapat dimodifikasi. Hal tersebut harus diterima sebagai pemberian dari Yang Maha Kuasa kepada kna. Tetapi bukan berarti kna tidak melakukan usaha. Kalau sudah menyadari ada faklor risiko yang tidak dapat dimodifikasi tersebut, sebaiknya kita waspada, mengambil jalan antisipasi untuk menjaga dan melakukan pemeriksaan dini untuk menghindari munculnya penyakit. Pada faklor risiko yang sebenarnya dapat dimodifikasVdiperbaikVdihindari,seperti hipertensi, diabetes, merokok, kolesterol, trigliserida, asam ural, pola hidup, dll. sering kita tidak menyadari faklor tersebut sudah bersemayam di dalam tubuh, karena tidak semua membuat gejala yang tampak..

Tidak salalu disertai gajala

Berbeda dengan saki! gigi, batuk atau diare yang langsung memberikan gejala, faklor risiko di alas sering tidak memberikan gejala, jadi kita tidak menyadarinya, merasa sehat-sehat saja, tetapi sebenarnya di dalam tubuh sudah banyalk faklor risiko yang berkembang. lidak ada orang yang sempurna yang bisa menghindari semua laklor risiko, tetapi usahakan sesedikil mungkin laklor risiko yang ada pada diri kita. Misalnya ada laklor risiko yang tidak dapat dihindari seperti usia, riwayat keluarga dan genetil<, maka jangan ada lagi faktor risiko lain yang sebenamya dapat dihindari.

Perlunya Chack-up

Itulah pentingnya kita melakukan Check-up, agar dapat mengetahui faklor risiko apa saja yang ada dan berkembang di dalam tubuh kita, agar cepat dapat diketahui dan ditangani, sehingga tidak timbul menjadi penyakit. Apabila diketahui pada saat yang masih dini malka akan mudah untuk ditangani, masih membutuhkan biaya yang murah, tidak mengganggu karier kna dan hasil pengobatan pun akan memberikan hasil yang prima, dibandingkan apabila faklor risiko Ieiah lanjut. Jadi, sebaiknya jangan tunda untuk melakukan Cheek-up, sayangi hid up dan karier Anda. Hanya kita yang dapat menjaga diri kna sendiri.