Selamat Datang Di Siloam Heart Institute

Tentang Penyakit Jantung Koroner

Latarbelakang

Pada saat ini Penyakit Kardiovaskular ( Jantung dan pembuluh darah ) merupakan pembunuh nomor satu di masyarakat dunia , dan juga termasuk di Indonesia. Bahkan menurut laporan WHO hingga tahun 2020 masih menduduki tempat teratas di Negara berkembang. Dari seluruh , penyebab kematian hampir 25 % disebabkan oleh gangguan kelainan jantung dan Pembuluh darah. Sedangkan jumlah penyakit Kardiovaskular akan meningkatnya menjadi 11 % dari Jumlah penduduk di negara berkembang. Penyakit kardiovaskular yang terbanyak angka kejadiannya adalah Penyakit Jantung Koroner ( PJK).

Penderita PJK di Indonesia semakin bertambah dari tahun ke tahun. Angka dari Survey Kesehatan Nasional tahun 2001 menunjukkan tiga dari 1.000 penduduk Indonesia menderita PJK atau 4% dari masyarakat. Sebagian besar dari penderita PJK sudah terlambat ke dokter. Pengalaman saya di praktek, bahkan pasien datang untuk Operasi pintas Koroner ( Coronary Atrey Bypass Graft = CABG) tidak pernah mengetahui bahwa sudah menderita PJK dan pernah kena serangan jantung sebelumnya

Pada dekade terakhir ini penyakit Kardiovaskular di Indonesia menyerang pasien yang usianya  lebih muda dibandingkan dengan di dunia barat . Hal ini disebabkan oleh kebiasaan yang tidak sehat dan tingkat stress yang tinggi, serta  diperburuk lagi semakin meningkatnya insiden penyakit Diabetes melitus.

Segala upaya pengobatan ( kuratif ) termasuk pembedahan dan intervensi non bedah demikian juga upaya sekunder ( secondary preventive ) pada umumnya memerlukan biaya yang mahal, maka untuk pencegahan di masyarakat sebaiknya dilakukan pencegahan primer ,bahkan sedapat mungkin dilakukan pencegahan primordial ( sejak di kandungan dan lahir ).

Apakah itu PJK?

pjk_5PJK terjadi karena adanya penyempitan/ penyumbatan pembuluh darah koroner jantung yang berfungsi mendistribusikan darah dan oksigen ke otot jantung. Penyumbatan itu disebabkan tertumpuknya endapan lemak di sepanjang dinding arteri yang berlangsung secara bertahap Jika aliran darah berkurang secara bermakna, maka penderita perlu segera mendapatkan tindakan medis. Penyempitan atau sumbatan di dinding pembuluh darah yang dikenal sebagai plak aterosklerosis ini berasal dari deposit lemak (terutama kolesterol LDL), sel-sel otot polos pembuluh darah dan matriks ekstraselular lainnya sebagai hasil dari proses yang berlangsung bertahun-tahun.

Keterangan gambar: Anatomi pembuluh darah jantung dan perkapuran yang menyebabkan penyempitan di pembuluh koroner

 

 

Apakah keluhan dari PJK ?

Keluhan penderita PJK dapat bervariasi. Umumnya berupa angina pectoris yaitu rasa sakit di dada seperti tertekan benda berat yang kadang menjalar ke lengan, rahang dan punggung. Ada pula penderita yang mengeluh leher seperti tercekik atau merasa sakit di ulu hati. Keluhan ini biasanya terjadi pada saat penderita melakukan aktivitas fisik atau kondisi stres yang membuat jantung berdenyut lebih kencang dan menuntut oksigen yang lebih banyak. Sebagian penderita bahkan datang ke dokter dalam keadaan serangan jantung (miokard infark). Rasa sakit serangan jantung ini lebih hebat dan lebih lama jika dibandingkan dengan keluhan angina pectoris sehingga membuat badan basah kuyup dengan keringat dingin.

Apakah faktor resiko yang mempercepat terjadinya PJK?

Faktor resiko yang dapat di modifikasi ( modifiable risk )

  1. Merokok: Risiko penyakit jantung koroner pada perokok 2-4 kali lebih besar daripada yang bukan perokok. Penurunan resiko terjadi setelah menghentikan rokok 2 tahun. Merokok dapat mempengaruhi profil lipid dengan menurunkan High Density Lipoprotein ( HDL ) dan meningkatkan Low Density Lipoprotein ( LDL ) dan trigliseride. Selain itu rokok juga mempengaruhi sel Trombosit dan parameter pembekuan darah.
  2. Obesitas : didefinisikan sebagai peningkatan berat badan lebih dari 20 % berat badan normal
  3. Stres/pemarah : walaupun sulit dinilai secara statistik hubungan stress dan serangan jantung namun diketahui bahwa ganguan emosional meningkatkan keluhan penyakit jantung
  4. Diabetes melitus
  5. Hipertensi
  6. Kolesterol tinggi
  7. Kurangnya gerak
  8. Infeksi
  9. Gangguan pada darah ( Fibrinogen, faktor trombosiss dan sebagainya)

Faktor resiko sering timbul berkelompok dan dapat berpengaruh satu dengan yang lainnya seperti obesitas berhubungan erat dengan diabetes dan darah tinggi (hipertensi).

Faktor resiko yang tak dapat dimodifikasi ( non modifiable risk )

  1. Usia: pada pria usia > 40 tahun , wanita >55 tahun
  2. Jenis kelamin ( Pria lebih beresiko)
  3. Riwayat keluarga : Keluarga dekat penderita PJK prematur ( laki-laki <55 tahun dan perempuan < 65 tahun) dan individu yang memiliki keluarga dengan hiperkolesterolemia familialnperlu diperiksa untuk faktor risiko kardiovaskular, karena berisiko untuk menderita CVD

Faktor risiko yang tak dapat diubah adalah usia (lebih dari 40 tahun), jenis kelamin (pria lebih berisiko) serta riwayat keluarga.

Apakah pemeriksaan untuk mendiagnosa kelainan PJK ?

  1. Elektrokardiogram ( EKG): EKG akan merekam aktivitas listrik yang berlangsung dalam jantung anda.
  2. Echocardiogram: Suatu alat yang menggunakan gelombang suara untuk mengetahui gambaran jantung, seperti fungsi pompa jantung dan katup jantung.
  3. Stress test dengan Treadmill. Tanda-tanda kelainan PJK dapat diketahui dengan test uji latih jantung dengan beban.
  4. Angiogram atau Kateterisasi jantung: untuk melihat aliran darah dalam jantung anda.
  5. Electron Beam Computerized Tomography ( EBCT). Tes ini juga disebut sebagai Ultrafast CT Scan, yang dapat mendeteksi kadar calsium dalam deposit lemak yang menyempitkan arteri koroner
  6. Magnetic Resonance Angiography ( MRA): teknik ini menggunakan gelombang magnetik yang menghasilkan gambaran 3-D dari pembuluh arteri koroner yang mana akan membantu dokter anda mengetahui adanya penyempitan atau penyumbatan

Apakah alternatif pengobatan dari PJK ?

Secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 yaitu: terapi dengan obat-obatan, angioplasti koroner (percutaneous transluminal coronary angioplasty atau PTCA)  dan bedah pintas koroner (coronary artery bypass graft atau CABG).

  1. Terapi dengan obat-obatan: obat antiangina (nitrat, beta blocker, calcium chanel blockers) yang berguna untuk mengurangi konsumsi oksigen otot jantung dan menambah aliran darah koroner dengan cara melebarkan pembuluh darah. Selanjutnya ada obat-obatan antihipertensi yang bekerja melebarkan pembuluh darah dan atau merelaksasikan otot halus arteri. Yang paling populer adalah obat-obatan antiplatelet seperti aspirin yang berfungsi mengencerkan darah. Penelitian terakhir juga menunjukkan bahwa pemberian statin atau obat penurun kolesterol secara oral sesudah serangan jantung mampu menurunkan angka kematian akibat PJK hingga mencapai 34% per tahun. Efek antiperadangan obat penurun kolesterol ini diperkirakan memiliki kemampuan memperkuat lapisan pelindung plak, menstabilisasikan plak dan bahkan dapat mengurangi penyempitan. Sayangnya hingga saat ini belum ada satupun obat yang dapat menghancurkan sumbatan atau plak yang menjadi dasar penyebab PJK.
  1. Angioplasti koroner dan pemasangan Stent: Pada prosedur tindakan ini dilakukan dengan memasukkan kateter panjang ke dalam daerah yang mengalami penyempitan dari pembuluh arteri. Jadi pada prinsipnya pemasangan stent ini adalah membuka sumbatan dengan balon dan menyangga sumbatan tersebut dengan stent yang berbentuk cincin. Ada 2 macam stent yang sekarang banyak beredar, yaitu stent biasa ( Bare Metal Stent = BMS) dan Stent yang dilapis obat ( Drug Eluting Stent = DES).  DES yang banyak beredar Di Pasaran dunia yang sekarang  adalah Sirolimus dan Paclitaxel.  Pelapisan stent dengan obat ini bisa menurunkan angka restenosis hingga 5% dan pada penderita diabetes melitus bahkan mencapai 10% serta terbukti aman karena tak dijumpai efek samping sistemik. Meski begitu, penelitian masih tetap dilanjutkan karena metode ini masih belum sempurna.

pjk_4

Kerangan gambar: Terapi dengan melebarkan penyempitan pembuluh koroner dengan cara pemasangan stent.

  1. Bedah Pintas Koroner ( Coronary artery bypass graft atau CABG ): CABG adalah memberikan aliran darah baru ke daerah yang pembuluh darahnya sempit dengan pembuluh darah vena atau arteri ( Bypass graft). Operasi pintas koroner juga dianggap lebih menguntungkan dilakukan pada penderita dengan penyempitan yang terletak di posisi pembuluh koroner utama kiri (left main coronary artery), penderita diabetes melitus dan penderita dengan penurunan fungsi jantung. Operasi bedah pintas koroner memerlukan suatu mesin jantung paru ( Heart Lung Machine atau HLM ) untuk menggantikan fungsi jantung dan paru selama tindakan bypass, yang disebut Onpump. Kini dikenal juga apa yang disebut dengan off pump bypass surgery yaitu tindakan bedah jantung tanpa menggunakan bantuan mesin jantung paru. Penanaman graft dilakukan pada jantung yang masih berdenyut (beating heart). Prosedur ini dianggap dapat mengurangi biaya operasi, mempersingkat masa rawat nginap dan mengurangi trauma maupun komplikasi akibat bedah. Manfaat teknik bedah ini masih memerlukan evaluasi jangka panjang. Angka kematian saat ini berkisar antara 1-2%. Bahkan di pusat jantung yang besar dan terkenal, angka ini bisa mencapai di bawah 1%.

Pemilihan tindakan pengobatan untuk PJK, antara pemasangan stent dan CABG memerlukan diskusi yang mendalam antara ahli jantung dan ahli bedah jantung. Pilihan tergantung dari beberapa hal seperti lokasi dan karakter penyempitan, jumlah pembuluh darah koroner yang terlibat, fungsi jantung, adanya penyakit penyerta, usia, dan juga biaya. Penulis juga perlu mengingatkan kepada masyarakat untuk menanyakan kepada ahli jantung untuk indikasi terapi ( misalnya pemasangan stent > 2 buah dan resiko penyumbatan kembali atau restenosis) dan apakah tersedia fasilitas bedah jantung di rumah sakit tersebut dalam setiap pemasangan stent, sehingga apabila terjadi komplikasi dapat ditangani dengan cepat dan tepat.

pjk_3

Keterangan gambar 1: Pembuluh darah yang dapat ditanam di pembuluh koroner dapat diambil dari tungkai bawah: Vena Saphena magna, Dari lengan: arteri radialis dan dari Dada: arteri mamaria Interna.

Gambar:2: Operasi bypass adalah membuat aliran baru dari pembuluh nadi besat (aorta) ke arteri koroner jantung dengan mengunakan pembuluh darah vena dan arteri.

pjk_2

Adakah tindakan pencegahan untuk penyakit jantung Koroner ?

Pencegahan penyakit kardiovaskular ditujukan untuk menurunkan angka kejadian pertama kali (pencegahan primer) atau berulangnya kejadian  (pencegahan sekunder) pada penyakit jantung koroner, stroke iskemik dan penyakit pembuluh darah perifer.

Pada tulisan ini saya lebih menekankan kepada pencegahan primer, bahkan pencegahan sedini mungkin ( pencegahan primordial) sejak masih di kandungan ibu.

Pencegahan primer penyakit jantung koroner meliputi:

  1. Perubahan gaya hidup seperti penurunan berat badan untuk mencapai berat ideal dengan lingkar pinggang yang diharapkan untuk laki-laki < 90 cm dan untuk wanita < 80 cm ( modifikasi asia),pengaturan pola makanan dengan diit kaya buah-buahan, sayuran, ikan , serat dan biji-bijian, menghentikan kebiasaan merokok, faktor psikososial dengan menghindari stress berlebihan.

 

  1. Aktivitas fisik : beberapa studi menunjukkan manfaat penurunan resiko PJK anatara lain menurunkan berat badan, mengontrol tekanan darah pada hipertensi, memperbaiki toleransi gula pada diabetes, mengontrol kolesterol, mengurangi stress atau ketegangan pikiran. Untuk mencapai hasil yang maksimal diperlukan latihan yang teratur dan mempunyai program dan target yang sesuai dengan keadaan tiap individu.

 

  1. Pengendalian Faktor Resiko: Faktoir Resiko – yang sudah disebut terdahulu seperti Hipertensi , Diabetes Mellitus,Lipid darah ( LDL, HDL, Trigliserida dll), riwayat keluarga dan sindroma metabolik, perlu dikontrol dan diperhatikan. Apabila kita sudah mempunyai salah satu faktor tersebut perlu dilakukan pengendalian yang baik dengan berkonsultasi ke dokter keluarga anda.

pjk_1

 

Oleh: Dr.  Royman Simanjuntak Sp. BTKV

*) Penulis adalah Dokter Spesialis Bedah Jantung dan pembuluh darah di Cardiovascular Center , Siloam Hospitals Kebon Jeruk dan Siloam Hospitals Lippo village